<body vlink="#FCFCF1"><script type="text/javascript">canEdit = new Array();</script><div align="center"><table border="0" cellpadding="1" cellspacing="0" width="626" bgcolor="#FF05B0"><tr><td><table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%" bgcolor="#FF05B0"><tr><td><a href='http://www.blogspot.com/'><img src='http://www.blogblog.com/images/header1.gif' alt='blog*spot' width='146' height='78' border='0'></a></td><td valign="middle" align="center"><script language='JavaScript'>google_ad_client='blogger_468x60';google_ad_width=468;google_ad_height=60;</script><script language='JavaScript' src='http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js'></script><br></td></tr></table></td></tr></table></div>
KEMITRAAN PETANI TEMBAKAU


UD. Sinar Agung didirikan tahun 1998 oleh Azis Hamzah. Kemitraan ini ditujukan untuk menjalin kerjasama antar petani tembakau yang berada di daerah Jawa Timur

Saat ini jumlah mitra UD. Sinar Agung mencapai 216 petani dan diharapkan dapat terus bertambah.

Adapun tujuan UD Sinar Agung adalah :
Menjadi Mitra utama bagi pemberdayaan para petani tembakau, khususnya di daerah Jawa Timur

Kerjasama Kemitraan

Sebagai salah satu negara pengekspor bahan baku komoditas pertanian tropis utama di Dunia, Indonesia yang dikaruniai oleh sumberdaya alam yang berlimpah seyogianya dapat meraih devisa, tidak hanya dari mengekspor bahan baku komoditas pertanian yang nilai tambahnya ada di negara lain, melainkan juga harus mampu mengolah sumberdaya alam yang ada menjadi berbagai produk pertanian yang mempunyai nilai tambah yang tinggi dan mampu bersaing di pasar global.


Dalam konteks pengembangan agribisnis yang bercirikan inovasi, pola kemitraan diperlukan untuk meningkatkan efisiensi, efektifitas dan produktifitas hubungan bisnis yang didukung oleh akses terhadap pasar, modal, dan teknologi.


Kemitraan adalah kerjasama usaha antara usaha kecil dengan usaha menengah atau dengan usaha besar disertai pembinaan dan pengembangan oleh usaha menengah atau usaha besar dengan memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan. Kemitraan antara pengusaha besar dan kecil/individu yang bergerak dalam suatu sistem komoditas juga dikarenakan adanya kesalingtergantungan antara satu dengan lainnya. Misalnya dalam hubungan antara industri besar dengan petani, industri besar bergantung dari bahan baku yang diproduksi oleh petani, karena seperti yang diketahui dalam pasar modern menghendaki identitas produk yang trasparan, sehingga proses produksi harus jelas mulai dari hulu sampai hilir. Hal ini sesuai dengan perubahan preferensi konsumen. Dengan makin meningkatnya pendidikan, kesehatan dan pendapatan, preferensi konsumen lebih rinci sampai pada kualitas, kandungan nutrisi, keselamatan dan aspek lingkungan. Berdasarkan hal ini maka koordinasi tak langsung melalui kekuatan pasar (harga) tidak akan mampu menjamin kualitas produk yang dihasilkan sesuai keinginan konsumen. Bentuk usaha yang sesuai adalah koordinasi vertikal mulai agribisnis hulu (petani) hingga agribisnis hilir (agro-industri/eksportir).


Untuk itu perusahaan dapat membina suatu hubungan dengan petani selaku pemasok bahan baku, dengan cara menawarkan suatu media kerjasama kepada petani. Media kerjasama yang di tawarkan dapat berupa suatu solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh petani pada umumnya yaitu dari segi permodalan, sarana prasarana produksi, akses pasar dan kemampuan penguasaan teknologi, dengan begitu petani akan bersedia untuk bermitra dan menjadi pemasok bagi perusahaan tersebut. kesediaan menjadi pemasok disini maksudnya adalah kesanggupan individu/organisasi/perusahaan untuk secara terus menerus memenuhi kebutuhan bagi proses produksi suatu perusahaan.
Kesediaan petani menjadi pemasok perusahaan juga dapat dikarenakan adanya pertimbangan bahwa petani tidak akan menanggung keseluruhan resiko baik dalam proses produksi maupun pemasaran produknya, tetapi akan ditanggung bersama dengan perusahaan mitranya. Dengan begitu agar tidak mengalami kerugian perusahaan akan memperhatikan hal-hal yang dibutuhkan petani dalam proses produksinya dengan lebih seksama sehingga resiko gagal produksi dapat diperkecil.



oleh Bambang Junaedi